Terus Merosot, Sempat Tembus Rp 16.400, Apa yang Terjadi Jika Rupiah Terus Anjlok?

waktu baca 2 menit

Gantanews.co – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menunjukkan tren penurunan dalam beberapa hari terakhir. Kurs saat ini berada di sekitar Rp 16.367,43 (data Bank Indonesia). Meskipun sempat rebound dan naik ke Rp16.270 per dolar AS, tren depresiasi masih terlihat.

Gubernur Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa meskipun terjadi depresiasi, nilai tukar rupiah masih stabil dan termasuk yang terbaik di antara mata uang negara-negara lain.

Beberapa faktor yang dikemukakan oleh analis terkait pelemahan rupiah adalah:

  • Data Fundamental AS: Inflasi dan penjualan ritel di AS yang lebih tinggi dari ekspektasi pasar menunjukkan bahwa ekonomi AS masih kuat. Hal ini mempengaruhi nilai tukar rupiah.
  • Konflik Geopolitik: Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, khususnya antara Iran dan Israel, telah memperkuat sentimen risk-off. Sentimen ini berdampak pada mata uang emerging markets, termasuk rupiah.
  • Kebijakan The Fed: Sentimen terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga oleh The Fed juga berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah.

Jika nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus anjlok, beberapa dampak yang mungkin terjadi adalah:

  • Inflasi Impor: Barang-barang impor akan menjadi lebih mahal, yang dapat meningkatkan inflasi di dalam negeri.
  • Biaya Utang Luar Negeri: Perusahaan dan pemerintah yang memiliki utang dalam dolar AS akan menghadapi biaya yang lebih tinggi untuk melayani utang mereka.
  • Daya Beli Masyarakat: Daya beli masyarakat terhadap barang-barang impor akan menurun, yang dapat mempengaruhi konsumsi dan pertumbuhan ekonomi.
  • Investasi Asing: Fluktuasi nilai tukar yang tinggi dapat menurunkan kepercayaan investor asing terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) telah mengambil beberapa langkah untuk mengatasi pelemahan rupiah, antara lain:

  • Intervensi pasar valas: BI melakukan intervensi pasar valas untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.
  • Menaikkan suku bunga: BI menaikkan suku bunga acuan untuk menarik investasi asing dan memperkuat rupiah.
  • Mengimbau eksportir untuk meningkatkan ekspor: Pemerintah mengimbau eksportir untuk meningkatkan ekspor guna meningkatkan pasokan dolar AS di dalam negeri.

Di tengah ketidakpastian global dan tantangan domestik, Indonesia dihadapkan pada ujian ketahanan ekonomi. Pelemahan rupiah bukan hanya sekadar angka, tetapi cerminan dari dinamika ekonomi yang lebih luas yang mempengaruhi setiap lapisan masyarakat.

Diperlukan langkah strategis dan sinergi antara pemerintah, Bank Indonesia, serta pelaku ekonomi untuk memitigasi dampak jangka panjang dan mengembalikan kepercayaan investor.

Kita semua berharap, dengan kebijakan yang tepat dan kerja keras bersama, rupiah akan kembali menguat, membawa optimisme baru bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. (int)

Follow me in social media:
iklan iklan