Profil Kepala SMAN 2 Natar, Pelman Sihombing: Bertekad Cerdaskan Anak Bangsa

waktu baca 2 menit

Gantanews.co, Lampung Selatan – “Jika ada murid yang belum pintar, jangan salahkan muridnya, tapi para guru yang harusnya mengevaluasi diri, sudah maksimal atau belum mendidiknya.” Itulah prinsip Kepala SMAN 2 Natar, Pelman Sihombing. Pria kelahiran Kerasaan, 30 November 1961 tersebut sudah sekitar tiga tahun memimpin sekolah yang beralamat di Desa Pancasila, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan itu. Sebagai pendidik, ia selalu ingin mencerdaskan anak bangsa.

Selama memimpin, banyak perubahan yang dilakukan disekolah tersebut. Mulai dari pembangunan infrastruktur dan pembangunan mental serta disiplin guru dan siswa. Pada pembangunan infrastruktur, ia mulai membenahi kondisi sekolah. “Sebelumnya jalan masuk dan bagian tengah sekolah selalu banjir jika hujan, namun ketika saya masuk, saya benahi. Saya bangun pagar dan gapura, drainase, dan menambal jalan dan sekolah supaya air tidak menggenang,” ujarnya pada gantanews.co beberapa waktu lalu.

Bahkan ia mengaku jika awalnya tidak ada biaya, namun ia berkorban dengan dana pribadi. “Masalah uang bisa dicari, yang terpenting bagaimana kondisi sekolah bisa nyaman digunakan untuk kegiatan belajar mengajar,” ujarnya bersemangat.

Begitupun dengan pembenahan sistem di sekolah. Ia lebih banyak memberi contoh, bukan hanya memberi arahan. Setiap hari ia datang lebih awal dari semua guru dan murid. Sebelum masuk, ia selalu berdiri di depan gerbang sekolah menyambut guru dan murid yang datang. “Dari situ saya bisa mengetahui siapa murid dan guru yang sering datang terlambat, saya tidak hanya bisa ngomong, tapi juga memberi contoh konkrit,” tegasnya.

Warga Bumisari, Natar tersebut juga tidak segan-segan menjemput murid yang mulai enggak berangkat ke sekolah. Ia berprinsip tidak ada murid yang malas, tapi yang ada murid yang kurang dimotivasi. Maka dari itu, gurulah disini yang berperan memotivasi muridnya.

Hasil kerja kerasnya itupun berbuah manis. Ratusan murid kini mendaftar disekolah tersebut setiap tahunnya. Padahal pada beberapa tahun sebelum ia masuk, tak jarang murid yang mendaftar kurang dari 100 orang. “Jika sekolah kita kondisinya nyaman, maka murid dengan sendirinya pasti datang,” ujarnya.

Selain itu ia juga turut mendukung berbagai kegiatan di sekolah. Mulai dari kegiatan ekstrakurikuler kesenian, kerohanian, hingga bidang olahraga. Selain itu, ia mencontohkan hidup sederhana. Ia lebih senang menggunakan sepeda motor lamanya ke sekolah dibanding menggunakan mobil. Ia juga memiliki jiwa toleransi yang tinggi, meskipun beragama non muslim, namun pembangunan Musala sekolah menjadi perhatian serius baginya. (Tim)

Follow me in social media:
iklan