Mengapa Hari Idul Adha 2024 di Indonesia Berbeda dengan Arab Saudi? Ini Penjelasannya

waktu baca 3 menit

Gantanews.co – Pada tahun 2024, Hari Raya Idul Adha di Indonesia dan Arab Saudi jatuh pada tanggal yang berbeda. Indonesia menetapkan Idul Adha pada Senin, 17 Juni 2024, sementara Arab Saudi menetapkannya pada Minggu, 16 Juni 2024.

Dua tahun terakhir, Idul Adha di Arab Saudi dan Muhammadiyah bersamaan, namun mendahului Pemerintah Indonesia. Tiga tahun sebelumnya, Idul Adha di Arab Saudi dan Pemerintah Indonesia bertepatan, sedangkan Muhammadiyah mendahului. Namun ada juga tahun dimana Idul Adha dirayakan pada hari yang sama oleh Muhammadiyah, Pemerintah Indonesia, dan Arab Saudi.

Perbedaan ini bukanlah hal baru dan dapat dijelaskan melalui perbedaan metode penetapan awal bulan Hijriah yang digunakan oleh kedua negara.

Metode Penetapan di Indonesia

Indonesia menggunakan kombinasi metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (observasi hilal atau bulan sabit baru). Dalam sidang isbat yang digelar pada Jumat, 7 Juni 2024, pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan bahwa 1 Dzulhijjah 1445 H jatuh pada Sabtu, 8 Juni 2024. Penetapan ini dilakukan setelah memastikan bahwa ketinggian hilal memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), yaitu hilal harus terlihat pada ketinggian minimal 2 derajat.

Pada maghrib tanggal 7 Juni 2024, hilal telah mencapai ketinggian 8 derajat 48 detik, sehingga memenuhi kriteria tersebut. Dengan demikian, Hari Raya Idul Adha, yang jatuh pada 10 Dzulhijjah, ditetapkan pada Senin, 17 Juni 2024.

Metode Penetapan di Arab Saudi

Arab Saudi, di sisi lain, menggunakan metode hisab dan rukyat yang lebih mirip dengan metode yang digunakan oleh Muhammadiyah di Indonesia. Arab Saudi menetapkan awal bulan berdasarkan Wiladatul Hilal, yaitu posisi bulan sabit yang baru saja lahir setelah konjungsi (ijtimak).

Pada Kamis, 6 Juni 2024, konjungsi terjadi setelah matahari terbenam di Arab Saudi. Meskipun konjungsi terjadi pada malam itu, hilal sudah bisa dilihat dengan tinggi 1 derajat 58 detik di Jeddah. Karena posisi hilal positif dan terlihat, Arab Saudi menetapkan bahwa Jumat, 7 Juni 2024 adalah 1 Dzulhijjah 1445 H. Maka, Idul Adha di Arab Saudi ditetapkan pada Minggu, 16 Juni 2024.

Mengapa Terjadi Perbedaan?

Perbedaan penetapan Idul Adha ini disebabkan oleh beberapa faktor utama:

  1. Kriteria Penetapan Hilal: Kriteria MABIMS yang digunakan oleh Indonesia mengharuskan hilal terlihat pada ketinggian minimal 2 derajat, sementara Arab Saudi cukup dengan hilal yang sudah lahir dan bisa dilihat meski pada ketinggian yang lebih rendah.
  2. Waktu Konjungsi: Konjungsi yang terjadi setelah matahari terbenam di satu negara dan sebelum di negara lain juga mempengaruhi penetapan tanggal awal bulan. Arab Saudi bisa menetapkan awal Dzulhijjah lebih cepat karena konjungsi terjadi pada waktu yang memungkinkan hilal terlihat pada malam yang sama.
  3. Metode Pengamatan: Indonesia menggabungkan hisab dan rukyat untuk memastikan visibilitas hilal, sementara Arab Saudi cenderung lebih fleksibel dengan rukyat hilal yang positif, meskipun ketinggian hilal masih rendah.

Dampak Perbedaan

Perbedaan penetapan ini tidak hanya mempengaruhi tanggal Idul Adha tetapi juga tanggal pelaksanaan puasa Arafah dan wukuf di Arafah, yang merupakan bagian penting dari rangkaian ibadah haji. Meski demikian, perbedaan ini merupakan hal yang sudah sering terjadi dan tidak mengurangi makna dari ibadah yang dijalankan oleh umat Muslim di kedua negara.

Dengan pemahaman tentang metode yang digunakan dan alasan di balik perbedaan penetapan ini, diharapkan umat Muslim dapat menerima dan menjalankan ibadah dengan khusyuk dan penuh makna, sesuai dengan penetapan di masing-masing negara. (int)

Follow me in social media:
iklan