Di Balik Semangat Belajar, Potret Memprihatinkan SMAN 1 Abung Pekurun

waktu baca 3 menit

Gantanews.co — Pagi itu, matahari belum terlalu tinggi ketika satu per satu siswa memasuki halaman SMAN 1 Abung Pekurun. Seragam putih abu-abu tampak rapi, langkah mereka ringan, dan wajah-wajah muda itu menyimpan harapan yang sama: belajar, meraih masa depan, dan mengubah nasib.

Namun di balik semangat itu, realitas yang mereka hadapi setiap hari tak selalu seindah cita-cita.

Bangunan sekolah yang berdiri di Pekurun, Kecamatan Abung Pekurun, Kabupaten Lampung Utara, ini kini menjadi potret nyata persoalan klasik dunia pendidikan: infrastruktur yang belum sepenuhnya layak.

Belajar di Tengah Keterbatasan

Di dalam ruang kelas, aktivitas belajar mengajar tetap berlangsung seperti biasa. Guru menjelaskan materi, siswa mencatat dengan serius. Tak ada yang berbeda dari semangatnya.

Yang berbeda adalah kondisi ruangannya.

Beberapa bagian atap tampak mulai rusak. Saat hujan turun, air menetes dari langit-langit, memaksa siswa menggeser meja atau bahkan menghentikan aktivitas belajar sejenak. Dinding yang retak dan cat yang mulai mengelupas menjadi pemandangan yang tak lagi asing.

Situasi ini bukan hanya soal estetika, tetapi juga menyangkut kenyamanan dan keselamatan.

“Kalau hujan, kami harus pindah tempat duduk,” ujar salah satu siswa, menggambarkan kondisi yang sudah menjadi rutinitas.

Guru Bertahan, Siswa Berjuang

Di tengah keterbatasan tersebut, para guru tetap menjalankan tugasnya dengan penuh dedikasi. Mereka berusaha memastikan proses pembelajaran tetap berjalan, meski fasilitas belum mendukung sepenuhnya.

Laboratorium yang seharusnya menjadi sarana praktik juga belum optimal digunakan. Peralatan terbatas, dan kondisi ruangan membutuhkan perbaikan agar bisa menunjang kegiatan belajar secara maksimal.

Padahal, di era pendidikan modern, pembelajaran tidak lagi hanya bergantung pada teori, tetapi juga praktik dan eksplorasi.

Ketimpangan yang Masih Nyata

Kondisi SMAN 1 Abung Pekurun mencerminkan fakta bahwa pemerataan kualitas pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Di satu sisi, banyak sekolah telah dilengkapi fasilitas modern, teknologi digital, hingga ruang belajar yang nyaman. Namun di sisi lain, masih ada sekolah yang harus berjuang dengan bangunan yang menua.

Pertanyaan pun muncul: bagaimana mungkin kualitas pendidikan bisa meningkat jika fondasi dasarnya belum terpenuhi?

Pendidikan bukan hanya soal kurikulum, tetapi juga lingkungan belajar.

Harapan pada Pemerintah

Kini, perhatian publik tertuju pada pemerintah, baik di tingkat Kabupaten Lampung Utara, Provinsi Lampung, maupun kementerian terkait.

Harapan yang muncul bukan sekadar pendataan atau kunjungan seremonial. Yang dibutuhkan adalah langkah nyata: rehabilitasi bangunan, perbaikan ruang kelas, serta peningkatan fasilitas pendukung pembelajaran.

Sebab, setiap hari yang berlalu tanpa perbaikan adalah waktu yang harus dijalani siswa dalam kondisi yang kurang ideal.

Menunggu Kepastian

SMAN 1 Abung Pekurun bukan satu-satunya sekolah dengan kondisi serupa. Namun, kisahnya menjadi pengingat bahwa pembangunan pendidikan harus menyentuh semua lapisan, tanpa terkecuali.

Di ruang-ruang kelas yang mulai rapuh itu, mimpi-mimpi besar tetap tumbuh. Anak-anak tetap belajar, guru tetap mengajar, dan harapan tetap hidup.

Kini, publik menunggu.

Akankah kondisi ini segera berubah? Atau justru kembali menjadi cerita lama yang berulang—tentang sekolah yang terus menunggu perbaikan, tanpa kepastian kapan akan terwujud? (tv/ad)