Selempang Galaksi Bima Sakti, Fenomena Langit Yang Buat Ibadah Ramadhan Tahun Ini Lebih Istimewa

Penampakan Selempang Galaksi Bima Sakti (foto: @ajuprasetyo)

Gantanews.co, Lampung – Ibadah Ramadhan 1442 H/ 2021 M terasa lebih istimewa dengan kehadiran Selempang Galaksi Bima Sakti, terutama saat sahur, yakni fenomena langit yang menarik dan sayang untuk dilewatkan.

Peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Rhorom Priyatikanto menjelaskan, Selempang Galaksi Bima Sakti merupakan fenomena antariksa atau dalam bahasa internasional dikenal dengan istilah Milky Way.

Dijelaskan Rhorom seperti dikutip dari CNNIndonesia.com, fenomena Selempang Galaksi Bima Sakti merupakan penampakan langit yang menyerupai piringan yang sekelilingnya nampak lebih banyak bintang dan dapat disaksikan hingga Agustus 2021.

Rhorom menyarankan, waktu terbaik melihat fenomena Selempang Galaksi Bima Sakti yakni selepas Isya (sekita pukul 20.00) hingga 03.00 ke arah rasi Sagitarius dan Scorpio. Namun dapat disaksikan lebih jelas saat sahur, saat langit lebih minim dari polusi cahaya dan udara.

Gantanews.co menyarankan menggunakan aplikasi Google Sky Map atau aplikasi Stary Night untuk lebih mudah menemukan rasi-rasi bintang.

Rhorom menjelaskan jika melihat ke arah langit pada malam di waktu tertentu, maka dapat terlihat seperti jalur di langit yang dihuni oleh banyak bintang. Kemudian bila melihat dari daerah perkotaan dan minim polusi udara dan cahaya, maka katanya, dapat terlihat banyak gugusan bintang pada jalur tersebut.

Sementara itu, menurut Astronom amatir Indonesia, Marufin Sudibyo seperti dikutip dari laman Goodnewsfromindonesia.id, selempang galaksi Bima Sakti adalah bagian dari galaksi Bima Sakti yang bisa disaksikan dari bumi.

Marufin mengatakan, selempang galaksi Bima Sakti hanya bisa disaksikan di kawasan pedesaan atau kota kecil yang belum terpolusi cahaya (skala Bortle maksimum 3). Pada skala Bortle maksimum 3, ketampakan selempang ini menjadi indikator apakah lingkungan setempat telah terpolusi cahaya atau belum. Tidak dibutuhkan alat bantu untuk melihatnya. Apabila hendak diabadikan atau difoto, dapat menggunakan kamera ponsel ataupun kamera lebih kompleks seperti DSLR.

“Selempang Bima Sakti hanya bisa dilihat di daerah yang gelap yang memiliki skala Bortle maksimum 3,” jelas Marufin.

Selempang Bima Sakti ternyata sudah dikenal sejak awal peradaban manusia, meski pada saat itu orang belum mengetahui bahwa selempang tersebut merupakan galaksi. Di masa Yunani dan Romawi Kuno, selempang ini dikenal sebagai Via Lactea karena menyerupai aliran sungai yang berisikan susu. Sehingga, transliterasinya ke dalam Bahasa Inggris menghasilkan nama Milky Way.

Identitasnya sebagai kumpulan bintang-bintang yang sangat banyak baru diusulkan oleh para astronom Muslim sejak abad ke-10, seperti al-Biruni, Ibn Bajah, Nasiruddin ath-Thusi, dan lain-lain. Konfirmasinya diperoleh pada era teleskop, saat Galileo Galilei mengarahkan teropongnya ke selempang Bima Sakti dan mendapatkan kumpulan bintang-bintang redup dalam jumlah besar.

Sementara itu penamaan Selempang Galaksi Bima Sakti pertama kali diberikan oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno pada tahun 1960an. Pada saat itu, kata Rhorom, Presiden Soekarno ditunjukkan pusat galaxy bima sakti melalui teleskop. Dalam penamaan dengan semangat nasionalismenya, Soekarno menamakan fenomena itu dengan nama Galaksi Bima Sakti. Diberikannya nama Bima Sakti, menurut Rhorom karena Presiden Soekarno melihat bagian yang sekilas tampak seperti wayang bima sakti. Maka diubahlah menjadi Galaksi Bima Sakti.

“Maka dari itu dengan semangat nasionalisme daripada kita menyebut Milky Way atau Via Lactea maka kita sebut saja sebagai Bima Sakti di tahun 1960-an,” tutup Rhorom. (*)